Kelangkaan Alat Pelindung Diri di Pasar

Munculnya virus corona baru pada tahun 2019 atau disingkat dengan COVID-19 menyebabkan banyak dampak yang terjadi khususnya pada kuantitas alat pelindung diri (APD) di pasar. Indonesia menjadi salah satu negara yang sempat merasakan kelangkaan APD berupa masker dan baju hazmat karena dampak kepanikan masyarakat terhadap ancaman kesehatan yang menjadikan timbulnya panic buying alat kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat. Beberapa rumah sakit khususnya rumah sakit kecil harus memutar otak dengan mengganti baju hazmat dengan jas hujan dan mengganti masker medis dengan masker kain karena sulitnya menemukan dua pelindung tersebut. Ketika sudah berhasil ditemukan, harga yang diminta juga sangat tinggi hingga ada yang memasarkan sampai 10 kali lipat dari harga sebelumnya. Penimbunan alat tersebut juga marak dilakukan oleh beberapa oknum yang ingin memperoleh keuntungan pribadi dari situasi ini.

Pemerintah saat ini sudah memutar cara dengan memberantas penimbun APD dan mewajibkan masyarakat non medis menggunakan masker kain ketika berpergian. Masyarakat yang masih merasa kurang dengan APD tersebut juga diizinkan menggunakan APD tambahan selain yang diperuntukkan bagi tenaga medis seperti topi anti corona. Dengan begitu, selain dapat mengantisipasi kelangkaan APD khusus tenaga medis, juga dapat menghidupkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) sebagai lahan produksi masker. 

Di sisi lain, produksi baju hazmat terus ditingkatkan pemerintah sehingga pasokan APD ini bisa tersebar di seluruh pelayanan kesehatan. Dari UMKM hingga siswa SMK turut serta berpartisipasi dalam menjaga agar penyediaan APD bagi tenaga kesehatan selaku garda terdepat bisa tetap stabil. Gugurnya para pahlawan tenaga kesehatan dalam memerangi pandemi COVID-19 ini menarik simpati masyarakat Indonesia hingga tingkat dunia untuk saling bekerja membantu pemerintah serta para tenaga kesehatan dalam memberantas penyebaran virus corona baru.